Cyberbullying behavior: A study of emotional maturity Yogyakarta students

Chornelius Hutagaol*  -  Universitas Mercu Buana, Yogyakarta, Indonesia

(*) Corresponding Author

Supp. File(s): Research Instrument

Purpose -  The research objective was to determine the relationship between emotional maturity and cyberbullying behavior among students.

Method - This research is a case study using a quantitative method based on a post-positivism approach. The sampling technique in this study using purposive sampling technique. The number of subjects in this study amounted to 60 students. The data analysis technique used product moment correlation.

Result - The results of the research analysis using the "product moment" correlation technique showed a correlation number of -0.720 (p <0.01). The correlation coefficient value shows -0.720 which means that it has a very strong relationship level. Thus, the higher the emotional maturity, the lower the cyberbullying behavior, and the lower the emotional maturity, the higher the cyberbullying behavior.

Implications – To define university-Students are included in the early adulthood stage which should have good emotional maturity. High emotional maturity allows individuals to have the ability to understand reality and facts and the quality of responding to situations by separating pressure and attraction for pleasant and unpleasant feelings.

Originality - This research is cyberbullying behavior study using a quantitative method based on a post-positivism approach.

***

Tujuan -  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dengan perilaku cyberbullying pada mahasiswa.

Metode - Penelitian ini merupakan studi kasus dengan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan post-positivisme. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah subjek dalam penelitian ini berjumlah 60 siswa. Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment.

Hasil - Hasil analisis dengan teknik korelasi product moment menunjukkan angka korelasi sebesar -0,720 (p<0,01). Nilai koefisien korelasi menunjukkan -0,720 yang berarti memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat. Dengan demikian, semakin tinggi kematangan emosi maka semakin rendah perilaku cyberbullying, dan semakin rendah kematangan emosi maka semakin tinggi perilaku cyberbullying.

Implikasi - Untuk mendefinisikan mahasiswa termasuk dalam tahap dewasa awal yang harus memiliki kematangan emosi yang baik. Kematangan emosi yang tinggi memungkinkan individu memiliki kemampuan untuk memahami realitas dan fakta serta kualitas dalam merespon situasi dengan memisahkan tekanan dan ketertarikan terhadap perasaan menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Originalitas - Penelitian ini merupakan penelitian perilaku cyberbullying dengan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan post-positivisme.

Supplement Files

Keywords : Cyberbullying; emotional maturity; students; Perundungan dunia maya; kedewasaan emosional; mahasiswa

  1. Aulina, N. (2019). Konsep diri, kematangan emosi, dan perilaku bullying pada remaja. Cognicia, 7(4), 434-445. https://doi.org/10.22219/COGNICIA.Vol7.No4.%25p.
  2. Bertiana, D. (2019). Hubungan antara kematangan emosi dengan perundungan media sosial instagram pada remaja. Naskah Publikasi. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  3. Dewi, N. K., & Affifah, D. R. (2019a). Analisis perilaku cyberbullying ditinjau dari kemampuan literasi sosial media. Journal Empathy Couns, 1(1), 55-63.
  4. Dewi, N. K., & Affifah, D. R. (2019b). Analisis perilaku cyberbullying ditinjau dari big five personality dan kemampuan literasi sosial media. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 9(1), 79-88. http://doi.org/10.25273/counsellia.v9i1.4301.
  5. Gustiningsih, S., & Hartosujono. (2013). Hubungan kematangan emosi dengan kecenderungan perilaku cyberbullying pada pengguna Twitter di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Jurnal Spirits, 4(1), 1-84. http://dx.doi.org/10.30738/spirits.v4i1.1033.
  6. Habibah, U., & Sucipto, A. (2020). Building peer social support as a mental disorder solution for the blind. Journal of Advanced Guidance and Counseling, 1(1), 68-81. https://doi.org/10.21580/jagc.2020.1.1.5774.
  7. Kowalski, R. M., Limber, S. P., & Agatston, P. W. (2012). Cyber bullying: bullying in the digital age. Second edition. Australia: Blackwell Publishing.
  8. Kumala, N., & Suhana. (2018). Hubungan antara kematangan emosi dengan konformitas pada cyberbullying mahasiswa di Kota Bandung. Prosiding Psikologi, 4(1), 323-330.
  9. Malihah, Z., & Alfiasari. (2018). Perilaku cyberbullying pada remaja dan kaitannya dengan kontrol diri dan komunikasi orang tua. Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen, 11(2), 145-156. https://doi.org/10.24156/jikk.2018.11.2.145.
  10. Mutma, F. S. (2019). Deskripsi pemahaman cyberbullying di media sosial pada mahasiswa. Komunikasi, 12(2), 165-182. https://doi.org/10.21107/ilkom.v13i2.5928.
  11. Muzdalifah., Putri, T. T. (2019). Pengaruh keterlibatan ayah terhadap cyberbullying remaja pengguna Instagram. Jurnal Psikogenesis, 7(1), 1-12. https://doi.org/10.24854/jps.v7i1.871.
  12. Muawanah, L. B., & Pratikto, H. (2012). Kematangan emosi, konsep diri dan kenakalan remaja. Jurnal Psikologi, 7(1), 490-500. https://doi.org/10.30996/persona.v1i1.9.
  13. Nashukah, F., & Darmawanti, I. (2013). Perbedaan kematangan emosi remaja ditinjau dari struktur keluarga. Jurnal Psikologi: Teori & Terapan, 3(2), 93-102. http://dx.doi.org/10.26740/jptt.v3n2.p93-102.
  14. Navarro, R., Yubero, S., & Larrañaga, E. (2016). Cyberbullying across the globe: Gender, family, and mental health. Switzerland: Springer International.
  15. Patchin, J. W., & Hinduja, S. (2012). Cyberbullying prevention and response: Expert perspectives. New York: Routledge.
  16. Pratiwi, S. K. P., & Kusuma, R. S. (2019). Perilaku cyberbullying mahasiswa dengan teman sebaya. MediaTor, 12(2), 165-177. https://doi.org/10.29313/mediator.v12i2.4793.
  17. Rifauddin, M. (2016). Fenomena cyberbullying pada remaja. Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Khizanah Al-Hikmah, 4(1), 35-44. https://doi.org/10.24252/kah.v4i1a3.
  18. Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
  19. Syadza, N., & Sugiasih, I. (2017). Cyberbullying pada remaja smp x di kota pekalongan ditinjau dari konformitas dan kematangan emosi. Proyeksi, 12(1), 17-26. http://dx.doi.org/10.30659/jp.12.1.17-26.
  20. Zahrotunnisa, A., & Hijrianti, U. R. (2019). Online disinhibition effect dan perilaku cyberbullying. Psikologi Pendidikan, 93-101.

Open Access Copyright (c) 2021 Journal of Advanced Guidance and Counseling
License URL: https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/

Journal of Advanced Guidance and Counseling
Published by Department of Islamic Guidance and Counseling
Faculty of Da'wa and Communication 

Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Jl. Prof. Dr. Hamka Kampus III Ngaliyan Semarang 50185

ISSN: 2746-1513 (Print)
ISSN: 2746-1521 (Online)


This work is licensed under a Creative Commons

 
View My Stats
apps