Examining Case Delay and Victim Rights in Procedural Law

Authors

  • Elinda Novita Dewi Semarang State University, Indonesia https://orcid.org/0009-0002-1736-5375
  • Cahya Wulandari Semarang State University, Indonesia
  • Arief Fahmi Lubis National Defence University (NDU), Pakistan
  • Akhmad Farid Mawardi Sufyan International Islamic University Malaysia, Malaysia

DOI:

https://doi.org/10.21580/walrev.2026.8.2.31766

Abstract

This article examines whether Article 158(e) of Indonesia’s Criminal Procedure Code (KUHAP), which permits pre-trial review of delay in case handling without valid grounds, provides victims with an effective remedy rather than merely procedural access. Using a normative-doctrinal method, the study reads Articles 23(6), 158(e), and 163(3) systematically and applies grammatical and teleological interpretation, supported by a focused comparison with South Africa and Germany. Aggregate case-resolution figures are treated only as an institutional context and not as proof that any unresolved case constitutes an unjustified delay. The analysis identifies a remedial gap: the Code does not operationalize “valid grounds,” does not clearly connect the fourteen-day response rule in Article 23(6) to the evidentiary threshold under Article 158(e), and does not expressly specify a delay-specific follow-up order in Article 163(3). This does not mean that a favorable ruling has no legal effect, but it creates uncertainty regarding the required procedural act, the responsible institution, and the compliance period. The article proposes a victim-centered framework based on objective delay indicators; a prima facie evidentiary threshold followed by a duty of explanation from the authority; targeted judicial orders to restore active case handling without dictating its substantive outcome; compliance reporting; and improved victim access to case information and legal assistance.

Artikel ini mengkaji apakah Pasal 158 huruf e KUHAP, yang membuka praperadilan terhadap penundaan penanganan perkara tanpa alasan yang sah, benar-benar memberikan pemulihan efektif bagi korban dan bukan sekadar akses prosedural. Penelitian menggunakan metode normatif-doktrinal melalui pembacaan sistematis terhadap Pasal 23 ayat (6), Pasal 158 huruf e, dan Pasal 163 ayat (3), dengan penafsiran gramatikal dan teleologis serta perbandingan terbatas dengan Afrika Selatan dan Jerman. Data agregat penyelesaian perkara digunakan hanya sebagai konteks institusional dan tidak diperlakukan sebagai bukti bahwa setiap perkara yang belum selesai merupakan penundaan tanpa alasan yang sah. Hasil kajian menunjukkan adanya ketidaklengkapan hubungan remedial: parameter “alasan yang sah” belum operasional, aturan empat belas hari belum terhubung secara jelas dengan ambang pembuktian Pasal 158 huruf e, dan Pasal 163 ayat (3) belum menentukan tindak lanjut khusus bagi temuan penundaan. Kondisi tersebut tidak berarti putusan sama sekali tidak memiliki akibat hukum, tetapi menimbulkan ketidakpastian mengenai tindakan yang wajib dilakukan, lembaga pelaksana, dan waktu pemenuhan. Artikel ini menawarkan kerangka perlindungan korban berupa indikator keterlambatan objektif, pembuktian prima facie yang diikuti kewajiban penjelasan aparat, perintah yudisial yang terukur, pelaporan kepatuhan, serta penguatan akses informasi dan bantuan hukum.

Keywords: Criminal Procedure; Legal Certainty; Pre-Trial Review; Unjustified Delay; Victim Protection.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Allo, Zet Tadung, Ulil Amri, and Syarif Saddam Rivanie Parawansa. 2024. “Innovation of Pre-Prosecution Concepts in Handling Criminal Cases Based on The Principle of Contante Justitie.” The Prosecutor Law Review 2 (1): 95–116. https://doi.org/10.64843/prolev.v2i1.40.

Andrianto, Fadly. 2020. “Kepastian Hukum Dalam Politik Hukum Di Indonesia.” Administrative Law and Governance Journal 3 (1): 114–23. https://doi.org/10.14710/alj.v3i1.114-123.

Auliyanisya, Latifah. 2017. “Telaah Kritis Yuridis Normatif Dan Empiris Terhadap Pelaksanaan Perlindungan Korban Kejahatan Dalam Hukum Pidana Positif Indonesia.” Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum 15 (1): 45. https://doi.org/10.32694/010180.

Cardona, Jorge. 2023. “Rights of Alleged Victims in Penal Procedures in the Philippines.” In Rights of Alleged Victims in Penal Proceedings, 53–82. https://doi.org/10.5771/9783748936169-53.

Herman, Handrawan, Sabrina Hidayat, Oheo Kaimuddin Haris, Jabalnur, and Sumber T. Jaya. 2022. “Penolakan Putusan Praperadilan Oleh Penuntut Umum.” Halu Oleo Legal Research 202 (2): 202–18. https://journal.uho.ac.id/index.php/holresch/.

Kartadinata, Andriansyah. 2023. “Pembaharuan Hukum Pidana terhadap Pertimbangan Hakim Praperadilan.” Viva Themis Jurnal Ilmu Hukum 6 (1): 54–72. https://doi.org/10.24967/vt.v6i1.2087.

Komnas, H A M. 2023. “Kertas Kebijakan Penghormatan, Pelindungan, Dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia Dalam Penyidikan Dan Upaya Paksa Pada RUU KUHAP.” 2023.

Kruk, Ewa. 2024. “Selected Victim Protection Measures in Ordinary Criminal Proceedings.” Journal of Modern Science 59 (5): 143–55. https://doi.org/10.13166/jms/192841.

Kurniati, Susi Bina. 2021. “Tinjauan Yuridis Terhadap Penetapan Tersangka Dalam Perkara Gugatan Praperadilan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 21/PUU/XII/2014 Dihubungkan Dengan Peran Advokat Bidkum Polda Jabar.” Jurnal Hukum Media Justitia Nusantara 11 (2): 176–94. https://ojs.uninus.ac.id/MJN/article/view/1929.

Lathif, Nazaruddin. 2019. “Pertanggungjawaban Pidana Penyidik Polri dalam Kasus Salah Tangkap.” PALAR | PAKUAN LAW REVIEW 4 (2): 358–404. https://doi.org/10.33751/palar.v4i2.887.

Lawra, R. D. 2024. Buku Ajar Hukum Acara Pidana. PT Sonpedia Publishing Indonesia.

M. Rizki Yudha Prawira. 2024. “Penundaan Berlarut (Undue Delay) Penanganan Perkara Dugaan Tindak Pidana Penghalang-Halangan Dan Kekerasan Kepada Kerja Pers: Sebuah Tinjauan Kritis.” JURNAL HUKUM MEDIA JUSTITIA NUSANTARA 14 (2): 1–14. https://doi.org/10.30999/mjn.v14i2.3263.

Mamadaliev, Otkir Abdugaffarovich. 2025. “Improving Judicial Mechanisms for Eliminating Pre-Trial Procedural Errors in the Criminal Process of Uzbekistan.” The American Journal of Political Science Law and Criminology 7 (7): 67–72. https://doi.org/10.37547/tajpslc/volume07issue06-13.

Maringka, Jan Samuel, and Henry Yoseph Kindangen. 2023. Penahanan Prapersidangan Di Indonesia: Pre-Trial Detention in Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.

MURYAWAN, AMIR GIRI. 2021. “PUTUSAN PRAPERADILAN YANG MENYIMPANG SECARA FUNDAMENTAL.” Jurnal Penegakan Hukum Indonesia 2 (2): 170–98. https://doi.org/10.51749/jphi.v2i2.30.

Ombudsman Republik Indonesia. 2026. “Ombudsman Dorong Digitalisasi Pengawasan Pelayanan Polri Yang Humanis Dan Bebas Maladministrasi.” Ombudsman Republik Indonesia.

Pratama, I Gusti Agung Pandu Yuda. 2025. “Tinjauan Yuridis Prapenuntutan Dalam Sistem Peradilan Pidana Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.” Kerta Dyatmika 22 (2): 66–75. https://doi.org/10.46650/kd.v22i2.1751

Ryan Fani, BJ, Abdul Muis, Ari Wibowo, and Renaldy Amor. 2025. “Urgensi Penangguhan Pokok Perkara Pidana Saat Dilaksanakan Pemeriksaan Praperadilan Ditinjau Dari Perspektif Teori Hukum Progresif.” JULIAN: Journal of Law Education and Legal Science 1 (2): 40–49. https://rampublisher.com/index.php/JULIAN/article/view/215.

Susilo, Erwin. 2026. “MENEROPONG KEPASTIAN PENETAPAN STATUS TERSANGKA DALAM KUHAP BARU.” Al-Adl : Jurnal Hukum 18 (1): 206–25. https://doi.org/10.31602/al-adl.v18i1.18487.

Szafrańska, Urszula. 2022. “Excessive Length of Pretrial Detention in the Light of Jurisprudence of the European Court of Human Rights.” Kwartalnik Prawa Międzynarodowego I (I): 189–218. https://doi.org/10.5604/01.3001.0015.9891.

Wąsek-Wiaderek, Małgorzata. 2021. “A New Model of Appeal Proceedings in Criminal Cases: Acceleration v. Fairness? A Few Remarks from the Perspective of the Standards of Protecting Human Rights.” Studia Iuridica Lublinensia 30 (4): 187–207. https://doi.org/10.17951/sil.2021.30.4.187-207.

Witanto, D. Y. 2020. Hukum Acara Praperadilan Dalam Teori Dan Praktik. PT Imaji Cipta Karya.

Zikry, Ichsan, Adery Ardhan, and Ayu Eza Tiara. 2016. Prapenuntutan Sekarang, Ratusan Ribu Perkara Disimpan, Puluhan Ribu Perkara Hilang. Vol. 1. Jakarta: LBH Jakarta & MaPPI FHUI

Downloads

Published

2026-10-29

How to Cite

Elinda Novita Dewi, Cahya Wulandari, Arief Fahmi Lubis, & Akhmad Farid Mawardi Sufyan. (2026). Examining Case Delay and Victim Rights in Procedural Law. Walisongo Law Review (Walrev), 8(2), 248–265. https://doi.org/10.21580/walrev.2026.8.2.31766

Issue

Section

Articles