PEMIKIRAN ISLAM PROGRESSIF: Dua Dekade Pemikiran dan Gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL)

A. Ilyas Ismail*  -  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

(*) Corresponding Author

Theologically, Islam is one (single) and absolutely true. However, historically, after being understood, and translated into the reality of life in the dimensions of space and time, Islam is not a single, but wide in variety or has plural form and manifest in at least three schools of thought, the traditional Islamic revivalist Islam (fundamentalism), and Islam liberal (progressive). Group of the Liberal Islam Network (JIL) represents the latter mindset. Although it is relatively young, only 10 years old, JIL became popular because it brings new ideas that often arouse controversy in the community. The progressive thoughts carried out by JIL concerning the four areas. First, the reformation in politics, JIL forwards the idea of secularism. Second, in the field of social reforms and civic religion, JIL brought the idea or concept of pluralism. Third, reforms in individual freedom, JIL put forward the idea of liberalism both in thought and action. Fourth, reforms in the field of women, JIL brought the idea of gender equality. These thoughts get some pros and cons in the community. Some denounce and condemn it, but others appreciate and support it. In such an atmosphere, JIL continues to grow as a progressive Islamic thought and movements in Indonesia.

Secara teologis, Islam adalah satu (tunggal) dan mutlak benar. Namun, secara historis, setelah dicoba dihayati, dipahami, dan diterjemahkan dalam realitas kehidupan dalam dimensi ruang dan waktu, Islam tidak tunggal, tetapi beragam alias plural yang mewujud dan mengejawantah setidak-tidaknya dalam tiga aliran pemikiran, yaitu Islam tradisional, Islam revivalis (fundmentalisme), dan Islam liberal (progresif). Kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) mewakili pola pemikiran yang terakhir. Meski usianya relative muda, baru 10 tahun, JIL menjadi popular karena mengusung pemikiran-pemikiran baru yang sering memunculkan kontroversi dalam masyarakat. Pembaharus pemikiran yang diusung JIL menyangkut empat bidang. Pertama, pembaruan dalam bidang poiitik. Di sini, JIL mengedepankan gagasan sekularisme. Kedua, pembaruan dalam bidang social agama dan kemasyarakatan. Di sini, JIL mengusung ide atau konsep pluralisme. Ketiga, pembaruan dalam kebebasan individu. Dalam hal ini, JIL mengedepankan gagasan liberalism baik dalam berpikir maupun bertindak. Keempat, pembaruan dalam bidang perempuan. Di sini JIL mengusung ide kesetaraan gender. Pemikiran pembaharuan JIL ini mendapat pro dan kontra dalam masyarakat. Sebagian mencela dan mengecamnya, tetapi sebagian lagi memberi apresiasi dan mendukungnya.Dalam suasan semacam itu, JIL terus tumbuh sebagai pemikiran dan gerakan Islam progresif di Indonesia.

Keywords : Pemikiran Islam; JIL; sekularisme; pluralisme; liberalism; kesetaraan gender

  1. Abdalla, Ulil Abshar, “Kita Ingin Islam Liberal Sampai ke Mushalla,” Majalah Syir'ah, edisi April 2005.
  2. Abdalla, Ulil Abshar, Menjadi Muslim Liberal, Jakarta; Jaringan Islam Liberal, 2005.
  3. Abuza, Zachary, Militant Islam in Southeast Asia: Crucible of Teror, Collorado: Lynne Rienner Publisher Inc, 2003.
  4. Ali, Muhammad “The Rise of Liberal Islam Network (JIL) in Contemporary Indonesia,” The American Journal of Islamic Social Sciences 22: 1.
  5. Assaukani, Luthfi, Islam and The Secular State In Indonesia, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2009.
  6. Assaukani, Luthfi, Islam Benar Versus Islam Salah, Jakarta: Kata Kita, 2007.
  7. Assaukani, Luthfi, Wajah Islam Liberal di Indonesia, Jakarta: Jaringan Islam Liberal, 2002.
  8. Baidhawy, Zakiyuddin, “Ber-Islam di Era Multikulturlisme,” dalam Abd. Moqshit Ghazali [ed.]., Ijtihad Islam Liberal: Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis, Jakarta: Jaringan Islam Liberal, 2005.
  9. Barton, Greg, The Emergence of Neo-Modernism: A Progressive, Liberal Movement of Islamic Thought In Indonesia, terj. Indonesia oleh Nanang Tahqiq, Jakarta: Paramadina, 1999.
  10. Damanik, Ali Said, Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyyah di Indonesia, Jakarta: Teraju, 2002.
  11. Effendi, Djohan, “Harus Ada Kebebasan Tidak Beragama”, dalam Luthfi Assaukani, Luthfi, Islam Benar Versus Islam Salah, Jakarta: Kata Kita, 2007.
  12. Esposito, John L., Islam The Straight Path, Newyork: Oxford University Press, 2005.
  13. Ghazali, Abd. Moqsith, Argumentasi Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis al Qur'an, Jakarta: Kata Kita, 2009.
  14. Harjanto, Nicolaus Teguh Budi, Islam and Liberalism in Contemporary Indonesia: The Political Ideas of Jaringan Islam Liberal (JIL), Thesis Submitted to the Faculty of the College of Arts and Sciences, Ohio University.
  15. Hasyim Syafiq, Bebas Dari Patriarkhisme Islam, Jakarta: Kata Kita, 2010.
  16. Hooker, Virginia M., “Developing Islamic Argument For Change Through Liberal Islam,” dalam Amin Saikal dan Virginia M. Hooker, Islamic Perspektive on The New Millenium: Iseas Serius on Islam, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2004..
  17. Husaini, Adian, “Dari Yahudi Liberal ke Islam Liberal,” pengantar dalam Budi Hardianto, 50 Tokoh Islam Liberal di Indonesia, Jakarta: Hujjah Press, 2008.
  18. Iqbal, Muhammad, Recontruction of Religious Thougt in Islam, terjemahan Arab oleh 'Abbas Mahmud, Damaskus: Dar al Haitham, 2000.
  19. Majalah Gatra, Perlawanan Islam Liberal, Edisi 1 Desember 2001.
  20. Madjid, Nurcholish, et. al., Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis, Jakarta: Paramadina, 2004.
  21. Mahmada, Nong Darol “Kritik Atas Jilbab”, dalam Abd. Moqsith Ghazali, Argumentasi Pluralisme Agama:Jakarta: Jil, 2005.
  22. Misrawi, Zuhairi, “Dari Islam Liberal ke Islam Progressif,” Pengantar dalam Shalahuddin Jursi, Membumikan Islam Progresif, terj. Ainul Abid Shah, Jakarta: Paramadina, 2004.
  23. Muhammad, Husein dan Nur Rofi'ah, “Perempuan Boleh Mengimami Laki-Laki,” dalam Abd. Moqsith Ghazali, Argumentasi Pluralisme Agama: Jakarta: JIL, 2005.
  24. Nashirudin dan Sidik Hasan, Poros-Poros Ilahiyyah: Perempuan Dalam Lipatan Pemikiran Muslim Liberal Versus Tradisional, Surabaya: Jaring Pena, 2009.
  25. Rachman, Budhy Munawar, Reorientasi Pembaharuan Islam: Sekularisme,Liberalisme dan Pluralisme Paradigma Baru Islam Indonesia, Jakarta: Paramadina, 2010.
  26. Rakhmat, Jalaluddin, Islam dan Pluralisme: Akhlak Qur'an Menyingkapi Perbedaan, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006.
  27. The Wahid Institute, The Wahid Institute Annual Report 2008 on Religious and Belief Pluralism in Indonesia, Jakarta: The Wahid Institute and TIFA, 2008.
  28. Umar, Nasarudin, “Hijabisasi Perempuan Dalam Ruang Publik,” dalam Luthfi Assaukanie, Wajah Islam Liberal Indonesia, Jakarta: JIL, 2002.
  29. Wahid, Sinta Nuriyah, “Islam Memihak Perempuan,” dalam Abd Moqsith Ghazali, ed., Ijtihad Islam Liberal, Jakarta, JIL, 2005.

Open Access Copyright (c) 2017 Jurnal THEOLOGIA
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
 

JURNAL THEOLOGIA

FACULTY OF USHULUDDIN & HUMANIORA
State Islamic University of Walisongo
Semarang - Indonesia

 
                                                               
Web
Analytics
View My Stats
apps