HERMENEUTIKA HADIS: Upaya Memecah Kebekuan Teks

Nurkholis Hauqola*  -  Direktur “HARMONiKA Institute” Yogyakarta, Indonesia

(*) Corresponding Author
Abstract: “Standardization” of hadith’ interpretation is a religious understanding manifest Top of Form “Establishment” in hadith interpretation is a manifesto carries religious understanding entity; not only in the form of interpretation entity, understanding entity, truth entity, Islam entity, but also the other entity in religion. In contemporary lives of people the Prophet hadith presents in a “stagnant” and poor application consequently. It ignites a breakthrough to break up the stagnant sphere for shake “indigenization” of the hadith in order to correspond with reality epoch. In hadith interpretation, one of them is hermeneutic approaches. This hermeneutic approach could be achieved using 3 compositions; (1) meaning within the text (internal interpretation of the hadith text, (2) meaning behind the hadith text (things around interpretation of the hadith), (3) meaning in front of the text (“the opposite” interpretation of the hadith text). These three compositions of the interpretation have focus, target, and method in which are completed one another. They examine not only the horizon of the text (matan), the originator of the horizon (the Prophet), the reader (rijal al-hadith, mukharrij al-hadith, also mufassir), but also its contextuality. Nevertheless, for “established” hadith diciplines, hermeneutic is a “supporting instrument” (not replacing instrument), however, it is perceived able to create interpretation by combining textuality element and hadith contextuality through this hermeneutic approach at once, since a text could only come together in a context. Abstrak: “Pembakuan” pemaknaan hadis merupakan manifesto pemahaman agama yang mengusung ketunggalan; baik dalam bentuk penafsiran tunggal, pemahaman tunggal, kebenaran tunggal, Islam tunggal, dan ketungalan-ketunggalan lain dalam beragama. Akibatnya, hadis-hadis Nabi hadir di tengah kehidupan umat kekinian dalam bentuknya yang “beku” dan miskin aplikasi. Perihal tersebut memantik terobosan untuk memecah kebekuan demi “pribumisasi” hadis agar sesuai dengan realitas zaman. Salah satunya adalah pendekatan hermeneutik dalam penafsiran hadis. Pendekatan hermeneutik dalam penafsiran hadis dapat dilakukan melalui 3 (tiga) lapis penafsiran, yaitu: (1) penafsiran “dari dalam” teks hadis (meaning within the text); (2) penafsiran “terhadap hal-hal di sekitar” teks hadis (meaning behind the text); dan, (3) penafsiran “yang melawan” teks hadis (meaning in front of the text). Ketiga lapis penafsiran ini memiliki fokus, sasaran, serta metode yang antara satu dengan lainnya saling melengkapi. Ia mengkaji bukan hanya horison teks (matan), tetapi juga horison penggagas (Nabi), pembaca (rijal al-hadis, mukharrij al-hadis, serta mufassir), dan kontekstualitasnya. Meskipun hermeneutik merupakan “alat bantu” (bukan pengganti) bagi ilmu-ilmu hadis yang telah “mapan”, namun melalui pendekatan hermeneutik dirasakan mampu melahirkan pemaknaan yang menggabungkan unsur tekstualitas dan kontekstualitas hadis sekaligus, mengingat sebuah teks hanya bisa menemukan maknanya dalam konteks. Kata-kata Kunci: ḥadīṡ, hermeneutic, textuality, contextualization, interpretation
  1. Abbas, Hasjim, Kritik Matan Hadis; Versi Muhaddisin dan Fuqaha, Yogyakarta: Penerbit Teras, 2004.
  2. Abdullah, M. Amin, Studi Agama; Normativitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
  3. Assa’idi, Sa’dullah, Hadis-Hadis Sekte, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
  4. Bizawie, Zainul Milal, Perlawanan Kultural Agama Rakyat, Yogyakarta: SAMHA Institute, 2002.
  5. Bukhārī, Imām, Ṣaḥīḥ Bukhārī, IX, Semarang: Thoha Putra, t.th.
  6. Eagleton, Terry, Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif, Yogyakarta: Jalasutra, 2006.
  7. Eriyanto, Analisis Wacana; Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta: LKiS, 2006.
  8. Fanani, Ahmad Fuad, Islam Mazhab Kritis; Menggagas Keberagamaan Liberatif, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004.
  9. Fazlurrahman, Islam dan Modernitas, Bandung: Penerbit Pustaka, 1985.
  10. Al-Ghazali, Muhammad, Studi Kritis atas Hadis Nabi SAW, terj. Muhammad al-Baqir, Bandung: Mizan, 1996.
  11. Hamim, Thoha [ed], Antologi Kajian Islam, Surabaya: Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Press, 1999.
  12. Hardiman, F. Budi, Kritik Ideologis; Menyingkap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen Habermas, Yogyakarta: Penerbit Buku Baik, 2004.
  13. Jorgensen, Marianne W. & Louise J. Philips, Analisis Wacana; Teori dan Metode, terj. Imam Suyitno (dkk), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
  14. King, Richard, Agama, Orientalisme, dan Poskolonialisme; Sebuah Kajian tentang Perselingkuhan antara Rasionalitas dan Mitis, Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2001.
  15. Lutfi, Achmad, “Pemikiran Hadis Ibn Hatim Al-Razi: Melacak Perkembangan Awal Kritisisme Hadis”, dalam Jurnal Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadis,Vol.7, No. 2, Juli 2006.
  16. Al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyah, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.
  17. Muhadjir, Noeng, Filsafat Ilmu; Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998.
  18. Muhammad, Idris, “Hermeneutika sebagai Sumbangan Penafsiran al-Qur’an”, dalam http//:idrismuhammad.blogspot.com, akses 14-9-2011.
  19. Muhibbin, Hadis-Hadis Politik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
  20. Muslim, Imam, Shahih Muslim, II, Singapura: Sulaiman Mar’i, t.th.
  21. Mutawakkil, Hajir, “Hermeneutika Penafsiran al-Qur’an dan Hadis”, dalam http//:hajirmutawakkil. wordpress.com, akses 15-9-2011.
  22. Naf’atu Fina, Lien Iffah, “al-Qur’an dan Sains; Sebuah Pendekatan Hermeneutis” dalam Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadis, Vol. 9, No. 2, Juli 2008.
  23. Palmer, Richard E., Hermeneutika; Teori Baru mengenai Interpretasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
  24. Pulungan, Suyuthi, Fiqh Siyasah; Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994.
  25. Rahardjo, Mudjia, Hermeneutika Gadamerian: Kuasa Bahasa dalam Wacana Politik Gus Dur, Malang: Universitas Islam Negeri Malang Press, 2007.
  26. Sumaryono, E., Hermeneutika: Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1999.
  27. Sya’ban, Ahmad Ginanjar, “Hermeneutics”, dalam www.afkar.numesir.org, akses 10-11-2011.
  28. Zayd, Nasr Hamid Abu, Kritik Teks Keagamaan, Terj. Hilman Latief, Yogyakarta: El-Saq Press, 2003.
  29. Zayd, Nasr Hamid Abu, Hermeneutika Inklusif; Mengatasai Problematika Bacaan dan Cara-Cara Pentakwilan atas Diskursus Keagamaan, Terj. M. Mansur dan Khoiron Nahdhiyin, Jakarta: ICIP, 2004.

Open Access Copyright (c) 2016 Teologia

 

JURNAL THEOLOGIA

FACULTY OF USHULUDDIN & HUMANIORA
State Islamic University of Walisongo
Semarang - Indonesia

 
                                                               
Web
Analytics
View My Stats
apps