PERGUMULAN ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL Studi Kasus Masyarakat Samin di Dusun Jepang Bojonegoro

Nurhuda Widiana*  -  Jurusan Ushuluddin dan Dakwah STAIN Pekalongan, Indonesia

(*) Corresponding Author
Abstract: This article will explain the process of acculturation which is a concept to describe the long process of convergence of two or more values between Islam and local values in which individuals, groups and communities living with the culture he had. The emergence of resistance to the new school, to be understood as part of the community's love for the old values (local). On the one hand, it is a learning process to understand the new values (Islam). In these conditions, it is not appropriate to use claims of winning or losing, between Islam vis a vis local culture. Samin community understanding of the teachings of Islam, with the advantages and disadvantages of a form the beginnings of the community openness to cultures from the outside including the values of Islam. Samin society no longer close themselves from the outside community, slowly began to mingle with other people and being able to adapt to the changes that reaches it. Their understanding of the religion of Islam with regard to faith (theology), worship (ritual), muamalah (social), was inherited by the teachings Saminisme. Islam understood the teachings of Samin frame, so that the integrated nature ajaranlah, but the practice of worship (ritual) Islam has not been implemented. Tempers syncretic practice (Islam typical Samin), because Islam diakomodisasi in accordance with the teachings of Samin. Abstrak: Artikel ini akan menjelaskan tentang proses akulturasi yang merupakan konsep untuk menggambarkan proses panjang bertemunya dua atau lebih tata nilai antara Islam dengan nilai-nilai lokal di mana individu, kelompok dan masyarakat bertempat tinggal dengan budaya yang telah dimilikinya. Munculnya penolakan terhadap ajaran baru, harus dipahami sebagai bagian kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai lama (lokal). Pada satu sisi, ia adalah proses belajar untuk memahami nilai-nilai baru (Islam). Pada kondisi seperti ini, tidak tepat digunakan klaim menang atau kalah, antara Islam vis a vis budaya lokal. Pemahaman masyarakat Samin tentang ajaran Islam, dengan kelebihan dan kekurangannya merupakan wujud dimulainya era keterbukaan komunitas tersebut terhadap budaya-budaya dari luar termasuk di dalamnya nilai-nilai ajaran Islam. Masyarakat Samin tidak lagi menutup diri dari masyarakat luar, secara perlahan mulai berbaur dengan masyarakat lain dan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang menerpanya. Pemahaman mereka terhadap agama Islam yang berkaitan dengan akidah (teologi), ibadah (ritual), muamalah (sosial kemasyarakatan), masih terwarisi oleh ajaran Saminisme. Islam dipahami dengan bingkai ajaran Samin, sehingga hakekat ajaranlah yang terintegrasi, namun praktek ibadah (ritual) Islam belum dilaksanakan. Terjadilah praktek sinkretis (Islam khas Samin), karena ajaran Islam diakomodisasi sesuai dengan ajaran Samin. Keywords : Islam, budaya lokal, ajaran Samin.
  1. Anasom (ed), “Merumuskan kembali Interelasi Islam-Jawa”, Yogyakarta: Gama Media bekerjasama dengan Pusat Kajian Islam dan Budaya Jawa IAIN Walisongo Semarang, 2004.
  2. Asy’ari, Musa, Manusia Pembentuk Kebu-dayaan dalam al-Qur’an, Yogyakar-ta: LESFI, 1992.
  3. Benda, Harry J dan Lance Castle, The Samin Movement, Deen Haag: BKILTV, 1969.
  4. Bruinessen, Martin Van, “Global and Local in Indonesia lslam” dalam Southeast Asian Studies, Kyoto: vol 37, No 2, 1996.
  5. Cassirer, E., An Essay on Man, An Intro-duction to Philosophy of Human Culture, New Heaven: New York, 1994.
  6. Geertz, Cliford, 1983, Abangan Santri Priyayi, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
  7. Hartini, Kartasapoetra, Kamus Sosiologi dan Kependudukan, Jakarta: BumiAksara, 1992.
  8. Haviland, William A., Antropologi, Jil. I dan II, Jakarta: Erlangga, 1985.
  9. ISTIQRO’: Jurnal Penelitian Islam Indo-nesia, Volume 06, No. 1, 2007.
  10. Khadziq, Islam dan Budaya Lokal, Yogya-karta: Teras, tth.
  11. Koentjaraningrat, Kebudayaan, Menta-litet, dan pembangunan”, Jakarta: Gramedia, 1974.
  12. Koentjaraningrat, Masalah Kebudayaan dan Integrasi Nasional, Jakarta: UI Press, 1993.
  13. Lauer, Robert. H, Perspektif tentang Per-ubahan Sosial”, Jakarta: Rienika Cipta, 1993.
  14. Lombard, Denys, Nusa Jawa Silang Budaya, Jakarta: Gramedia, 1996.
  15. Nothingham , Elizabeth K., Agama dan Masyarakat, Jakarta: Rajawali Press, 1997.
  16. Poerwanto, Hari, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
  17. Syam, Nur, Madzhab-madzab Antro-pologi, Yogyakarta: LKiS, 2007.
  18. Wahid, Abdurrahman, Pergulatan Nega-ra, Agama, dan Kebudayaan, Jakar-ta: Desantara, 2001.
  19. Wahid, Abdurrahman, Ilusi Negara Is-lam: Ekspansi Gerakan Islam Trans Nasional di Indonesia”, Jakar-ta: The Wahid Institute, 2009.

Open Access Copyright (c) 2016 Teologia

 

JURNAL THEOLOGIA

Published by The Faculty of Islamic Theology and Humanities
Universitas Islam Negeri Walisongo
Semarang - Indonesia

 
                                                               
Web
Analytics
View My Stats
apps