REVITALISASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL BAGI UPAYA RESOLUSI KONFLIK

Suprapto Suprapto*  -  State Institute for Islamic Studies (IAIN) Mataram, NTB, Indonesia

(*) Corresponding Author

The involvement of local wisdom in conflict resolution and peace building is not the only way to resolve conflict. Some level of conflict resolution should be there along the path of conflict resolution. The stressing on the patterns of conflict resolution is still limited on conflict settlement and need to develop toward peace building involving local wisdom which ic proven to be able to maintain social harmony. Considering to the norms had been long internalized among society, the society members strongly held the society order. The most important in this context is the need in the side of the elites to discuss the patters of local wisdom based peace building.

***

Keterlibatan kearifan lokal dalam upaya resolusi konflik dan pembangunan per­damaian bukan satu-satunya jalam untuk menangani konflik. Harus ada beberapa tingkatan resolusi konflik. Penekanan pada pola resolusi konflik masih terbatas pada penghentian konflik dan perlu dikembangkan ke arah pem­bangunan per­damaian yang melibatkan kearifan lokal yang terbukti mampu mem­per­tahankan harmoni sosial. Dengan mempertimbangkan pada norma-norma yang telah lama terinternalisir di kalangan masyarakat, maka anggota masyarakat akan mem­pertahankan norma yang dimilikinya secara kuat. Hal yang paling penting dalam konteks ini adalah perlunya para elite untuk membicarakan tentang pola kearifan lokal yang didasarkan pada pembangunan perdamaian.

Keywords : peace building; kearifan lokal; resolusi konflik

  1. Ashutosh Varshney et.al., “Pattern of Collective Violence in Indonesia (1990-2003),” UNSFIR (United Nation Support Facility for Indonesian Recovery), Jakarta: Report UNSFIR, 2004.
  2. Benedict Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, London and New York: Verso, 1991
  3. CA. Coppel (eds.), Violent Conflicts in Indonesia: Analysis, Representation, Resolution, London: Routledge, 2005.
  4. Craig Calhoun, “Nationalism and Civil Society: Democracy, Diversity and Self Determination,” in Craig Calhoun (eds.), Social Theory and the Politics of Identity, Oxford: Blackwell Publisher, 1998.
  5. Faizah, “Dakwah Salafiyah di Lombok (Suatu Kajian Komunikasi antar Budaya),” Disertasi Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2010.
  6. Gerry van Klinken, Communal Violence and Democratization in Indonesia: Small Town Wars, London: Routledge, 2007.
  7. H.L. Syapruddin, “Nilai-nilai Kearifan Lokal yang Berlaku pada Masyarakat Sasak sebagai Pola Budaya,” makalah disampaikan pada seminar budaya di Taman Budaya Mataram.
  8. Irwan Abdullah, dkk., (ed.), Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan Global, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
  9. Jacques Bertrand, Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia, New York: Cambridge University Press, 2004.
  10. Jajat Burhanuddin dan Arif Subhan, (ed.), Sistem Siaga Dini terhadap Kerusuhan Sosial, Jakarta: Balitbang Agama Depag RI dan PPIM, 2000.
  11. John Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim Kearaifan Masyarakat Sasak, terj. Imron Rasyidi, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001.
  12. J. Rothman, From Confrontation to Cooperation: Resolving Ethnic and Regional Conflict, Newbury Park, CA: Sage, 1992.
  13. Lewis Coser, The Function of Social Conflict, New York: Free Press, 1965.
  14. Kadri, dkk., “Satu Leluhur Dua Agama,” Laporan Penelitian, Lemlit IAIN Mataram Tahun 2009.
  15. Khamami Zada, dkk., Prakarsa Perdamaian: Pengalaman dari Berbagai Konflik Sosial, Jakarta: Penerbit Lakpesdam NU, 2008.
  16. Marwan Sholahuddin, “Mengenal Kearifan Lokal di Klepu Ponorogo: Praktik Hubungan Sosial Lintas Agama dan Mekanisme Pencegahan Konflik” dalam Irwan Abdullah, dkk (Ed)., Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan Global, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
  17. Muhsin Jamil, M., (ed). Mengelola Konflik Membangun Damai: Teori, Strategi dan Implementasi Resolusi Konflik, Semarang: Walisongo Mediation Centre, 2007.
  18. Nurma Ali Ridwan, “ Landasan Keilmuan Kearifan Lokal” Ibda`, Vol. 5, No. 1, Jan-Jun. 2007.
  19. Nicola Colbran, “Realities and Challenges in Realising Freedom of Religion or Belief in Indonesia” The International Journal of Human Rights, Vol. 14, No. 5, September 2010.
  20. Ralf Dahrendorf, Class and Class Conflict in Industrial Society, Stanford: Stanford University Press, 1959.
  21. Simon Fisher, et.al, Mengelola Konflik Ketrampilan dan Strategi Untuk Bertindak, terj. S.N. Karikasari, dkk., Jakarta: The British Council Responding to Conflict, t.th.
  22. Syafuan Rozi dkk., Kekerasan Komunal: Anantomi dan Resolusi Konflik di Indonesia, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
  23. Internet dan Surat Kabar:
  24. Bali Post, edisi Minggu, 5 Februari 2006
  25. http://www.budpar.go.id/filedata/5199_1443-5.keragamanbudaya1oke.pdf diakses pada tangal 5 Desember 2010.

Open Access Copyright (c) 2016 Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Indexed by

Journal Terindex di DOAJ Journal Terindex di EBSCO Journal Terindex di Crossref Journal Terindex di Sinta Journal Terindex di Google Scholar Journal Terindex di Academia Journal Terindex di Mendeley Journal Terindex di Leiden Journal Terindex di Base Journal Terindex di Garuda Journal Terindex di Moraref Journal Terindex di onesearch 

 


Copyright © 2020 Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, ISSN: 0852-7172 (p) 2461-064X (e)

Published by Institute for Research and Community Services (LP2M), Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Jl. Walisongo No. 3-5 Semarang, Indonesia. Phone +6224 7601292 Email: walisongo@walisongo.ac.id

Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons
View My Stats
apps