Al maun and climate crisis: Dynamic between Muhammadiyah and indigenous communities in 21th century

Iman Permadi*  -  Center for Religious and Cross-Cultural Studies, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Ramadhani Jaka Samudra  -  Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia
Yassar Rizky Putra Utomo  -  Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia
Dina Marga Hidayati  -  Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

(*) Corresponding Author

Purpose - This paper examines how far the da’wa approach within the body of Muhammadiyah can reinforce the socio-ecological activism in response to indigenous people relating to environmental protection.

Method - Gathering analytical-descriptive method and Focus Group Discussion (FGD) with key informants and approaching the study case with Ian G. Barbour’s Dialogue and Integration of religion and science (1966)

Result  -  This paper argues that there is a tendency in Muhammadiyah to employ that dialogical and cooperative paradigm when it comes to the vulnerability of inherited land of indigenous people toward land-grabbing and so on by company and government. Moreover, the “green feature” of Muhammdiyah activism becomes stronger after agrarian fiqh was produced by the fatwa and Islamic research council of the central board in 2020. Further, the weak referred to in Al Maun Theology is, in this case, not only the indigenous people but also the defenseless environment. This article also perceives that the equivalent of the da’wa cultural approach of Muhammadiyah is more ecological than the puritan character. It proposes a socio-eco-centric view as an effort to avoid a theological dispute between both Muhammadiyah and indigenous people that is mostly encountered in indigeneity settings and is inseparable from the surrounding nature. However, there will be two consequences in doing that way, of course: between conversion and conservation.

Implication – This paper affirms al Maun's yet-to-be-completed and solidified transformative ecological power from the top down and vice versa. Nonetheless, a significant potential in the history of Muhammadiyah's heritage of discussion and inclusion is confirmed by the reflection of the three results above. Agrarian fiqh also contributed to a new understanding that environmental damage is linked to the mustadh’afin group's misery.

Originality - This article looks at Al Maun's holistic and universal changing power still has not contributed much, especially to the field of environmental issues and indigenous peoples. However, the main agenda of this article is expected to contribute to gap the discourse.
***

Tujuan - Tulisan ini mengkaji sejauh mana pendekatan dakwah di tubuh Muhammadiyah dapat memperkuat aktivisme sosial-ekologis dalam merespon masyarakat adat terkait pelestarian lingkungan.

Metode - Metode gathering analitis-deskriptif dan Focus Group Discussion (FGD) dengan informan kunci dan pendekatan studi kasus dengan Ian G. Barbour's Dialogue and Integration of religion and science (1966)

Hasil - Tulisan ini berargumen bahwa ada kecenderungan Muhammadiyah menggunakan paradigma dialogis dan kooperatif tersebut dalam hal kerentanan tanah pusaka masyarakat adat terhadap perampasan tanah dan sebagainya oleh perusahaan dan pemerintah. Terlebih, “fitur hijau” aktivisme Muhammadiyah semakin kuat setelah fiqh agraria dikeluarkan oleh fatwa dan dewan penelitian Islam dewan pusat pada tahun 2020. Selanjutnya, kelemahan yang dimaksud dalam Teologi Al Maun dalam hal ini bukan hanya masyarakat adat tetapi juga lingkungan yang tak berdaya. Artikel ini juga memandang bahwa padanan pendekatan kultural dakwah Muhammadiyah lebih bersifat ekologis daripada karakter puritan. Mengusulkan pandangan sosio-ekosentris sebagai upaya untuk menghindari perselisihan teologis antara Muhammadiyah dan masyarakat adat yang banyak ditemui dalam setting adat dan tidak dapat dipisahkan dari alam sekitarnya. Namun, akan ada dua konsekuensi dalam melakukan cara itu, tentu saja: antara konversi dan konservasi.

Implikasi – Makalah ini menegaskan kekuatan ekologi transformatif al Maun yang belum selesai dan dipadatkan dari atas ke bawah dan sebaliknya. Meskipun demikian, potensi yang signifikan dalam sejarah warisan diskusi dan inklusi Muhammadiyah ditegaskan oleh refleksi dari tiga hasil di atas. Fiqh agraria juga berkontribusi pada pemahaman baru bahwa kerusakan lingkungan terkait dengan kesengsaraan kelompok mustadh'afin.

Orisinalitas - Artikel ini melihat kekuatan perubahan holistik dan universal Al Maun masih belum banyak berkontribusi, terutama di bidang masalah lingkungan dan masyarakat adat. Namun, agenda utama artikel ini diharapkan dapat berkontribusi pada kesenjangan wacana.

Keywords: Al maun theology; climate crisis; indigenous people; cultural da’wa; Muhammadiyah; Teologi al maun; krisis iklim; masyarakat adat; dakwah budaya

  1. Abdullah, I. (1994). The Muslim Businessmen of Jatinom; Religious Reform and Economic Modernization in a Central Javanese Town. Universitiest Van Amsterdam.
  2. Abdullah, M. A. (2020). Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern di Tengah Pandemi Covid-19. Maarif, 15(1), 11–39. https://doi.org/10.47651/mrf.v15i1.75
  3. Alting, H. (2011). Penguasaan Tanah Masyarakat Hukum Adat (Suatu Kajian Terhadap Masyarakat Hukum Adat Ternate). Jurnal Dinamika Hukum, 11(1). https://doi.org/10.20884/1.jdh.2011.11.1.75
  4. Bagir, Zainal A., & Martiam, N. (2017). Routledge Handbook of Religion and Ecology. In W. Jenkins, M. E. Tucker, & J. Grim (Eds.), Routledge Handbook of Religion and Ecology (1st ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315764788
  5. Bagir, Zainal Abidin. (2015). THE “RELATION” BETWEEN SCIENCE AND RELIGION IN THE PLURALISTIC LANDSCAPE OF TODAY’S WORLD. Zygon®, 50(2), 403–417. https://doi.org/10.1111/zygo.12177
  6. Baidhawy, Z. (2015). Lazismu and remaking the Muhammadiyah’s new way of philanthropy. Al-Jami’ah, 53(2), 387–412. https://doi.org/10.14421/ajis.2015.532.387-412
  7. Baidhawy, Z. (2017). Muhammadiyah dan Spirit Islam Berkemajuan dalam Sinaran Etos Alqur’an. Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies, 13(1). https://doi.org/10.18196/AIIJIS.2017.0066.17-47
  8. Baidhawy, Z., & Khoirudin, A. (2017). Etika Muhammadiyah & spirit peradaban. Suara Muhammadiyah.
  9. Burhani, A. N. (2016). Muhammadiyah Jawa. Penerbit Suara Muhammadiyah.
  10. Burhani, A. N. (2019). Between Social Services and Tolerance: Explaining Religious Dynamics in Muhammadiyah. In Between Social Services and Tolerance (Issue 11). https://doi.org/10.1355/9789814881128-003
  11. Efendi, D., Kurniawan, N. I., & Santoso, P. (2021). From Fiqh to Political Advocacy: Muhammadiyah’s Ecological Movement in the Post New Order Indonesia. Studia Islamika, 28(2), 349–383. https://doi.org/10.36712/sdi.v28i2.14444
  12. Fanani, A. F. (2003). Membendung Arus Formalisme Muhammadiyah” dalam Moeslim Abdurrahman (Ed.), Muhammadiyah sebagai Tenda Kultural (Cetakan II). Ideo Press.
  13. Gade, A. M. (2015). Islamic law and the environment in Indonesia: Fatwa and Da.wa. Worldviews: Environment, Culture, Religion, 19(2), 161–183. https://doi.org/10.1163/15685357-01902006
  14. Gunawan, A. (2018). Teologi Surat al-Maun dan Praksis Sosial Dalam Kehidupan Warga Muhammadiyah. SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-I, 5(2), 161–178. https://doi.org/10.15408/sjsbs.v5i2.9414
  15. Huda, S. (2011). Teologi Mustad’afin di Indonesia: Kajian atas Teologi Muhammadiyah. Tsaqafah, 7(2), 345. https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v7i2.8
  16. Jainuri, A. (1997). The formation of the Muḥammadīyah’s ideology, 1912-1942 [McGill University]. https://central.bac-lac.gc.ca/.item?id=TC-QMM-34523&op=pdf&app=Library&is_thesis=1&oclc_number=893437409
  17. Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-44 Tanggal 8 s/d 11 Juli Di Jakarta. (2000). Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah.
  18. Menchik, J. (2016). Islam and Democracy in Indonesia: Tolerance without Liberalism. In Cambridge University Press. Cambridge University Press. www.cambridge.org/9781107119147
  19. Mu’ti, A., & Haq, F. R. U. (2009). Kristen Muhammadiyah: konvergensi Muslim dan Kristen dalam pendidikan. Al-Wasat Publishing House.
  20. Mulkhan, A. M. (1994). Masalah-masalah teologi dan fiqh dalam Tarjih Muhammadiyah. Sipress.
  21. Mulkhan, A. M. (2000). “Teologi” Petani: Respon Masyarakat Petani terhadap Islam Murni. Journal of Social Sciences and Humanities, 4, 254–282. https://doi.org/https://doi.org/10.20885/unisia.v0i41.5718
  22. Mulkhan, A. M. (2004). MUSTADL’AFIN DAN KAUM PR0LETAR DALAM ELITISME PENGINGKAR TUHAN. Tajdida, Vol. 2(No. 2), 229–236. http://hdl.handle.net/11617/1058
  23. Mulkhan, A. M. (2008). Mustadl’afin dan Kaum Proletar dalam Elitisme Pengingkar Tuhan’. Era Baru Gerakan Muhammadiyah, 97–104.
  24. Nakamura, M. (2010). Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Berigin. Pergerakan Muhammadiyah, 1.
  25. Peacock, J. L. (2017). Purifying the faith: the Muhammadijah movement in Indonesian Islam. The University of North Carolina Press.
  26. Qodir, Z., Jubba, H., Hidayati, M., Abdullah, I., & Long, A. S. (2020). A progressive Islamic movement and its response to the issues of the ummah. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, 10(2), 323–352. https://doi.org/10.18326/ijims.v10i2.323-352
  27. Said, M. Y., & Nurhayati, Y. (2020). PARADIGMA FILSAFAT ETIKA LINGKUNGAN DALAM MENENTUKAN ARAH POLITIK HUKUM LINGKUNGAN. Al-Adl : Jurnal Hukum, 12(1), 39. https://doi.org/10.31602/al-adl.v12i1.2598
  28. Samsu. (2017). Metode penelitian: teori dan aplikasi penelitian kualitatif, kuantitatif, mixed methods, serta research & development. In Diterbitkan oleh: Pusat Studi Agama dan Kemasyarakatan (PUSAKA).
  29. Sobrevila, C. (2008). The Role of Indigenous Peoples in Biodiversity Conservation: The Natural but often forgotten partners. The World Bank, 84.
  30. Tim Kerja BPHN. (2014). LAPORAN AKHIR TIM PENGKAJIAN KONSTITUSI TENTANG PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP MASYARAKAT HUKUM ADAT. In Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Hukum Nasional.
  31. Tim Konsorsium Pembaruan Agraria. (2019). Catahu 2019: Dari Aceh Sampai Papua - Urgensi Penyelesaian Konflik Agraria Struktural dan Jalan Pembaruan Agraria ke Depan. http://kpa.or.id/publikasi/baca/laporan/82/Catahu_2019:_Dari_Aceh_Sampai_Papua_-_Urgensi_Penyelesaian_Konflik_Agraria_Struktural_dan_Jalan_Pembaruan_Agraria_ke_Depan/
  32. UMAR, U. (2017). Strategi Dakwah Kultural Muhammadiyah pada Ritual Adat Mappogau Hanua Masyarakat Karampuang Sinjai. Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies, 13(2). https://doi.org/10.18196/aiijis.2017.0073.204-239
  33. Winters, J. A. (2011). Oligarki. In … Kinerja: Kajian Praktis-Akademis Kinerja dan … (pp. 1–505).

Open Access Copyright (c) 2022 Jurnal Ilmu Dakwah
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats

 

Indexed by


      

Jurnal Ilmu Dakwah
Published by Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang
Jl Prof. Dr. Hamka Kampus III Ngaliyan Semarang 50185
Phone: +622214085031
https://fakdakom.walisongo.ac.id/
Email: ilmudakwah@walisongo.ac.id

ISSN: 1693-8054 (print)
ISSN: 2581-236X (online)
DOI : 10.21580/jid


This work is licensed under CC Atribution - Non Comercial - ShareAlike 4.0.

 
apps